Minggu, 18 Maret 2012

BBM Belum Naik, Harga Barang Sudah Naik Duluan...! (Tidak hanya konsumen, pedagang pun sebenarnya ikut repot!)

Pemerintah baru merencanakan menaikkan harga BBM mulai 1 April 2012 mendatang. Namun harga-harga barang sudah naik duluan. Contohnya, Aqua galon sudah mulai naik per 1 Maret kemarin. Kenaikannya Rp.500,- per galon. Sehingga saat ini harga di pasaran berkisar antara Rp.13.000-Rp.14.000,- per galon. Harga gula pasir dan minyak goreng  juga naik antara 500 sampai 1000 rupiah per kilonya. Sehingga harga di pasaran sekitar 10.000-11.000 rupiah per kg.

Konsumen selalu mengeluhkan kenaikan hampir semua kebutuhan pokok tersebut. Mereka biasanya selalu komplain kepada penjual/pedagang. "Kok mahal?"  "Kok naik melulu?" "Hah! Naik lagi?" Begitulah kira-kira  ekspresi pembeli ketika mendapati barang yang dia beli harganya sudah berbeda dengan ketika dia beli tempo hari. Tapi sesungguhnya pedagang sendiri sebenarnya juga tidak suka dengan adanya kenaikan harga.  Mengapa? Kenaikan harga bukannya mengubah secara otomatis kenaikan profit/keuntungan bagi pedagang. Pedagang terpaksa menaikkan harga jual karena memang harga kulakannya juga naik. Sehingga sebenarnya margin keuntungannya tetap. Ketika harga belum naik, keuntungannya 500 perak per item, pas harga naik, keuntungannya pun tetap 500 perak. Jadi sekali lagi kenaikan harga barang tidak secara otomatis keuntungan pedagang juga naik. Bahkan bisa dibilang turun. Sebab biaya yang dikeluarkan buat modal kulakan lebih banyak sementara keuntungan tetap. Bahkan lagi, bisa jadi dengan kenaikan harga barang tersebut menyebabkan penurunan omzet, penurunan permintaan karena daya beli konsumen yang menurun, sehingga otomatis keuntungan secara keseluruhan juga menurun. Contoh ilustrasinya, jika sebelum harga naik, bisa menjual 100 item per hari dengan total keuntungan 50 ribu, setelah harga naik hanya bisa menjual 80 item perhari dengan keuntungan 40 ribu perhari.

Jadi, tidak hanya konsumen saja yang direpotkan dengan kenaikan harga, pedagang ternyata repot juga! Lalu siapa sebenarnya yang lebih menikmati kenaikan harga-harga itu? Entahlah.